Untitled

1.5M ratings
277k ratings

See, that’s what the app is perfect for.

Sounds perfect Wahhhh, I don’t wanna
bayuvedha
bayudwiseptiawan:
“ Bandingkan Aset Djarum, Sampoerna dengan Gontor dan Muhammadiyah ?
MEPNews.id ‘– Anda kagum dengan aset Djarum, Sampoerna, dll? Izinkan saya menyampaikan sesuatu.
64 tahun yang lalu, setelah Buya Hamka bekerjasama dengan Yayasan...
bayudwiseptiawan

Bandingkan Aset Djarum, Sampoerna dengan Gontor dan Muhammadiyah ?


MEPNews.id ‘– Anda kagum dengan aset Djarum, Sampoerna, dll? Izinkan saya menyampaikan sesuatu.

64 tahun yang lalu, setelah Buya Hamka bekerjasama dengan Yayasan Al-Azhar Indonesia, kini telah memiliki 150 cabang masjid di Indonesia, belum lagi aset sekolah-sekolahnya: sekarang hampir di tiap provinsi ada Sekolah Al-Azhar. Siapa orang kaya di Indonesia, yang asetnya sebanyak dan semanfaat Al-Azhar?

90 tahun yang lalu setelah sang kiai menyerahkan seluruh tanahnya, dirinya, bahkan anaknya yang masih dalam kandungan, diwakafkan untuk agamanya, 90 tahun kemudian GONTOR punya 20 cabang dan 400 pondok alumni tersebar di seantero nusantara bahkan ada yang di luar negeri. Saya tidak tahu berapa ratus triliun asetnya. Bermula dari tiga orang bersaudara. Sebutkan kepada saya, orang Indonesia dari penjajahan hingga sekarang, yang asetnya sebanyak beliau? Baik secara nilai aset maupun secara manfaat.

Muhammadiyah? Jangan ditanya. 104 tahun yang lalu. KH, Ahmad Dahlan pernah keluar rumah, mengumumkan kepada semua orang, siapa saja yang mau membeli seluruh perabotan yang ada di dalam rumahnya, karena beliau kekurangan dana untuk menggaji guru-guru sekolah Muhammadiyah.

Kini, 104 tahun kemudian Muhammadiyah telah memiliki 10.000 lebih sekolah mulai dari PAUD hingga SMU, 170 lebih universitas, 104 rumah sakit, yang pemerintah Indonesia baru punya 48 rumah sakit vertikal, 300 klinik, 10 Fakultas Kedokteran, 700 dokter dikeluarkan setiap tahunnya. Dan hampir 1000 Triliun nilai aset Muhammadiyah yang baru bisa terhitung dalam bentuk barang dan masih banyak lagi yang tidak terhitung. Maaf, saya belum update data terbaru amal usaha yang dimiliki ormas ini

NU? Ia sangat mengakar dan berbasis pada pesantren. Jangan tanya jumlah, karena yang pasti sudah tidak bisa dihitung lagi, meskipun data di Kemenag ada sekitar 27 ribu pesantren. Tapi, saya yakin lebih dari jumlah itu. Hampir semuanya tumbuh kembang dari wakaf-wakaf umat, mulai dari wakaf tanah 1 m, hingga ratusan hektar.

NU pun sejak satu dasawarsa terakhir ini giat membangun sekolah-sekolah modern, rumah sakit dan perguruan tinggi. Saya yakin dalam 20 tahun mendatang akan tumbuh ratusan perguruan tinggi dan rumah sakit NU di tanah air. Belum lagi jika kita bicara masjid-masjid yang dikelola ormas Islam yang didirikan oleh Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asyari ini, berapa nilai asetnya? Yang pasti akan fantastis.

Ada satu contoh lagi yang perlu kusebutkan di sini: Pesantren Darunnajah Jakarta, salah satu pondok alumni Gontor yang moncer. Baru-baru ini, dalam rangka miladnya yang ke-54 ia kembali mewakafkan tanah seluas 602 ha atau senilai Rp. 1,6 Triliun. Sebutkan padaku, siapa yang berani melepas asetnya sebesar 1,6 T dan diwakafkan pada umat? Gila? Tidak! Aku bahkan menyebutkan sangat waras! Saat banyak orang kaya menghamburkan triliunan rupiah untuk judi dan politik, sebuah pesantren berusia 54 tahun kembali mewakafkan angka yang fantastis.

Tahun 2015, aset tanah wakaf Darunnajah mencapai 677,5 hektar yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia seperti di Riau, Kalimantan, Bandung, Jakarta, Bogor, Banten, Lampung, Bengkulu, dan lain-lain. Seperti induknya, Gontor yang tanah wakafnya telah mencapai ribuan hektar, dan juga mengelola unit usaha yang beragam.

Woouw, pesantren seperti perusahaan ya. Asetnya fantastis. Bedanya, pesantren berasal dari wakaf, perusahaan dari modal. Kalau begitu, berarti umat Islam ini umat yang besar dan kaya dong? Betul sekali! Yang luar biasa dengan aset yang fantastis itu, kiai pendiri, pengasuh dan keluarganya tidak memiliki satu sen pun, karena telah diwakafkan. Ada garis tegas pemisahan harta pribadi dengan harta pondok.

Maka, jangan under-estimate, bahwa pesantren tidak bisa apa-apa. Itu penilaian orang yang tidak paham, atau memang tidak mau paham.

Tazakka, 6 tahun yang lalu hanyalah hamparan tanah kosong yang tak berpenghuni. Dulu, ia adalah sebuah kebun cengkeh milik kakekku, hanya 1,6 ha luasnya yang setelah wafatnya pada 1988 nyaris tak terurus dengan baik. Tahun 2009, aku tekadkan untuk mengubahnya menjadi “kebun manusia”; bukan lagi cengkeh yang akan dipetik, tapi manusia-manusia masa depan yang akan dipanen, 10, 20, atau 30 tahun yang akan datang, bahkan, ya Rabb, mungkin satu abad, atau 10 abad seperti Universitas Al-Azhar di Kairo itu, tempatku dan adik-adikku nyantri.

Kini, wakaf Tazakka terus berkembang: tanah telah menjadi hampir 10 ha, masjid, gedung-gedung asrama santri, ruang-ruang kelas, aula pertemuan, dapur umum santri, kamar mandi, lapangan olah raga, perpustakaan, dan lain sebagainya. Ya Rabb, bisakah seperti Al-Azhar di Kairo, atau Gontor di Ponorogo? Ya Rabb. Entah, apakah aku masih hidup menyaksikannya ataukah aku telah tenang di alam kubur. Ya Rabb.

Buya Hamka seandainya masih hidup, KH. Ahmad Dahlan, KH. Hasyim Asyari dan juga Kiai Ahmad Sahal, Kiai Fannanie dan Kiai Imam Zarkasyi, mungkin tidak pusing dengan tax amnesty, karena mereka punya rekening gendut di akhirat dan di dunia, biasa-biasa saja. Sementara yang punya rekening gendut di dunia, pusing di akhiratnya, pusing pula di dunianya.

Seperti yang saya ketahui ada sebuah Hadis Nabi yang intinya: “Ada malaikat Allah yang siap mendoakan orang-orang yang ikhlas di jalan Allah yang tak terhitung jumlahnya.”

Itulah jalan kemuliaan para ulama kita terdahulu. Mereka tidak saja mewariskan nilai-nilai kehidupan, tetapi juga mewariskan peradaban. Lalu, pertanyaannya, apa yang sedang dan akan wariskan kepada generasi yang akan datang?

Maka, para ulama kita itu abadi hingga kini. Setidaknya, nama, foto dan silsilahnya masih segar di ingatan seluruh umat dan bangsa ini. Dengan begitu, mereka selalu didoakan. Duh, nikmatnya mereka, tiap saat kuburnya basah dan _jembar_ (lapang) karena kiriman doa-doa umatnya yang terus-menerus tiada henti. Bisakah kita kelak seperti mereka? Ya Rabb!

Itulah jalan wakaf, membentang ke depan tak berujung. Wakaf itu seperti –meminjam istilah Taufik Ismail– “Sajadah Panjang”, tempat kita menghamparkan diri berinvestasi untuk akhirat yang abadi. Harta yang kita wakafkan tidak hilang, tapi tersimpan dalam rekening akhirat. Ibarat sebuah transaksi di bank, para malaikat itulah yang bertugas sebagai teller-tellernya.
(Ust. Ihsan Zainuddin Lc MS.i).

k-fahmi
k-fahmi

Harga Menjadi Orangtua

Sejak memutuskan untuk menjadi ayah dua puluh empat jam bagi Rafika, banyak hal yang berubah dalam hidup saya. Mulai dari soal prioritas, jadwal harian, sampai milestone yang saya buat. Ini kali kedua saya mengubah life plan dan milestone kehidupan untuk menyesuaikan kondisi. Yang pertama, ketika saya “mendadak” menikah.

Sebenarnya sebelum Rafika lahir, saya dan Dek Zahra sudah mempersiapkan sedemikian rupa menyambut kelahirannya. Barang-barang yang perlu dibeli dimasukkan dalam wishlist lalu dipilih sesuai prioritas agar sesuai dengan saldo yang kami alokasikan. Pekerjaan dan tanggungan yang belum selesai dimaksimalkan agar selesai sebelum Rafika lahir. Bahkan, sampai jadwal harian dan pembagian tugas pasca Rafika lahir sudah kami rencanakan.

Hal tersebut kami lakukan sebagai ikhtiar untuk menyambut Rafika dalam kondisi terbaik. Mengingat hari-hari menjelang kelahiran Rafika, tanda-tanda persalinan seolah tak kunjung muncul. Kami berharap dengan ikhtiar tersebut, Rafika bisa segera lahir dan penantian kami berganti dengan tanggung jawab.

*****

Namun kenyataannya, ketika Rafika lahir, semuanya menjadi berantakan. Jadwal yang kami susun sebelumnya kacau. Pembagian tugas tidak lagi berlaku, siapa yang mampu dan masih ada tenaga, dialah yang mengambil tanggung jawab. Segalanya serba heboh dan chaos. Keadaan ini berjalan kurang lebih sampai dua minggu lamanya.

Kami tak lagi bisa meluangkan waktu untuk menulis. Waktu bersama Al-Quran untuk ziyadah maupun muroja’ah pun sebisanya. Dan yang paling kami khawatirkan adalah berantakannya amalan yaumiyah yang sudah kami jalankan selama ini. Ya, mungkin ini bagian dari risiko yang tidak kami perhitungkan ketika memutuskan untuk tinggal sendiri bertiga pasca persalinan Dek Zahra.

Mungkin terkesan lebay, tapi begitulah yang kami alami. Waktu itu, hampir setiap jam Rafika bangun, entah karena ingin minum ASI, gumohkolik perutnya, atau karena BAK dan BAB. Kami pun bergantian siaga untuk membantu Rafika agar tenang kembali. Entah berkah atau musibah, kami tinggal sendiri hanya bertiga, sehingga kami bisa mengatur segalanya sesuai sistem dan preferensi kami. Tidak ada intervensi dari orangtua. Sehingga kami cukup nyaman meski banyak kurang maksimal karena belum berpengalaman.

Dua minggu berjalan, kami mulai mendapatkan polanya. Kapan Rafika lapar, kapan Rafika akan BAB, apa tanda kalau dia tidak nyaman, dan seterusnya. Kami pun mulai menyusun ulang jadwal harian. Kapan harus mencuci, melipat baju, membersihkan rumah, hingga keluar untuk belanja. Dan, alhamdulillaah, sampai hari ini kami terus belajar lifehack dan pola kehidupan Rafika yang berubah seiring perkembangannya.

Kami juga belajar bagaimana memberikan treatment untuk Rafika supaya nyaman dan tentang. Mulai dari digendong tegak, digendong tengkurap, dibacakan Al-Quran, diperdengarkan dzikir dan shalawat, dan segala macam treatment lainnya. Ya, banyak sekali hal yang kami pelajari khusus untuk Rafika, baik dari buku, pengalaman orangtua, cerita teman, dan lainnya. Itupun kami pilih dan dibuat custom untuk Rafika.

*****

Dua minggu pertama kelahiran Rafika, benar-benar mengajari kami tentang harga menjadi orangtua. Ya, setiap kali saya kelelahan menggendong, punggung saya sakit saat mencuci popok, saya jadi lebih banyak ber-istighfaar atas semua dosa saya terhadap orangtua. Betapa mahal harga menjadi orangtua bagi seorang anak. Cinta orangtua terhadap anak akan menuntut pengorbanan seluruh aspek kehidupannya. Mulai dari pekerjaannya, karirnya, waktunya, sampai perhatiannya. Itulah harga yang harus dibayar sebagai orangtua.

Saya kadang menangis ketika sedang sangat lelah. Ya, saya menangisi betapa teganya saya membantah orangtua. Betapa beraninya saya menyakiti hati orang yang dulu melakukan hal yang saat ini saya lakukan. Saya menangis karena membayangkan bagaimana sakit hatinya Bapak dan Ibu ketika saya marah atau tidak taat pada mereka. Astaghfirullaah.

Pantas sekali!

Pantaslah jika Al-Quran yang merupakan kalaamullaah mengatakan,

Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau keduanya sampai pada usia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” (Surat Al-Isra’ ayat 23).

Lihatlah bagaimana Allaah swt dengan jelas mengingatkan kita tentang cara bergaul dengan orangtua. Bahkan, sekedar membantah dengan kata “ah” saja sudah cukup akan menyinggung perasaan orangtua. Apalagi jika kemudian membentak dan memarahinya. Dan saking pentingnya perintah berbuat baik kepada kedua orangtua itu, Allaah swt meletakkannya tepat setelah perintah untuk ber-tauhid kepada Allaah swt.

Meski begitu, bagaimana pun mulianya orangtua, mereka tentu pernah salah. Dan ketika orangtua salah, wajib bagi kita untuk mengingatkannya, bukan malah menjerumuskannya. Maka, perhatikanlah bagaimana Allaah swt mengajarkan adab untuk mengingatkan orangtua yang salah di akhir ayat di atas dan ayat berikutnya.

Pertama, yaitu mengingatkan dengan perkataan yang mulia. Dalam arti, puji terlebih dahulu pendapat atau tindakan orangtua kita. Besarkan hatinya terlebih dahulu. Baru kemudian kita berikan contoh atau pilihan lain yang lebih baik dan tepat untuk dilakukan.

Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah, “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidikku sewaktu kecil.” (Surat Al-Isra’ ayat 24)

Dan seluruh tahapan perkataan yang mulia di atas harus dilakukan dengan cara yang rendah diri. Ingat! Tidak cukup rendah hati di hadapan orangtua, tapi harus rendah diri. Posisi kita terhadap orangtua harus lebih rendah. Seperti misalnya seorang budak terhadap tuannya, seorang karyawan terhadap majikannya, seorang tentara kepada jenderalnya, dan seterusnya.

Dan jika nasehat serta peringatan yang kita sampaikan tidak digubris oleh orangtua, kita tak bisa memaksa mereka. Ingatlah posisi kita yang harus lebih rendah. Maka, adab yang diajarkan oleh Allaah swt ketika kita bertemu dengan kondisi ini adalah mendoakan mereka seperti yang diajarkan oleh Allaah swt di akhir ayat di atas,

“Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidikku sewaktu kecil.”

Satu hal penting lagi yang Allaah swt ajarkan kepada kita tentang adab bergaul dengan orangtua adalah, tidak boleh kita membenci, marah, ataupun kesal dengan keputusan orangtua. Allaah swt yang Maha Lembut telah memfirmankan peringatannya,

Tuhanmu lebih mengetahui apa yang ada dalam hatimu. Jika kamu orang-orang yang baik, maka sesungguhnya Dia Maha Pengampun bagi orang-orang yang bertaubat.” (Surat Al-Isra’ ayat 25).

Seluruh tindakan kita terhadap orangtua tidak boleh ada benci atau kesal sedikitpun. Karena sewaktu kecil, orangtua tidak pernah kesal ataupun membenci kita meski kita sering menyulitkan mereka, membuat mereka sakit, bahkan mempermalukan mereka.

Perhatikan bagaimana lembutnya Allaah swt mengingatkan kita, Tuhanmu lebih mengetahui apa yang ada dalam hatimu. Mungkin di depan orangtua, kita tetap taat, kita tetap tersenyum. Tapi, begitu di dalam hati kita ada wajah yang berbeda, misalnya kesal, nggerundel, marah, dan lainnya, maka ridho Allaah swt tidak akan sampai pada kita.

Dan adab yang Allaah swt ajarkan kepada kita tentang bergaul dengan orangtua ini ditutup dengan ajakan untuk banyak-banyak memaafkan kesalahan orangtua agar kita tidak mudah menyimpan kesal dan amarah di dalam hati. Kenapa? Karena sebanyak apapun dosa dan kesalahan orangtua kepada kita, masih lebih banyak dosa dan kesalahan kita kepada Allaah swt. Dan bergaul dengan cara yang terbaik terhadap orangtua adalah sumber ampunan dosa kita dari Allaah swt.

Dan sepertinya, itulah yang hendak disampaikan oleh Rasuulullaah saw dalam haditsnya berikut ini,

Celaka orang itu, celaka orang itu, celaka orang itu!” Para sahabat lalu bertanya, “Wahai Rasuulullaah, siapakah yang engkau maksud?” Rasuulullaah saw menjawab, “Orang yang celaka adalah orang yang mendapati kedua orangtuanya masih hidup, atau salah satu darinya, tapi dia masuk neraka (karenanya).

Allaahumma (i)ghfirlanaa wa liwaalidainaa wa (i)rhamhum kamaa rabbaunaa sighaaraa. Semoga kita bisa beradab yang baik terhadap setiap orangtua kita, yang padanya tertawan keridhaan dan rahmat Allaah swt untuk kita.

gsatriaandika
gsatriaandika

“Renungan”

Selama ini saya selalu mencoba mengamati dari “kacamata” yang tidak berpihak kepada siapapun calon pemimpin negeri ini. Tapi berusaha melihat dua tujuan utama dari alasan saya yang akhirnya memutuskan untuk ikut dalam pemilihan pemimpin negeri ini dengan mengikuti fatwa Ulama mengenai kebolehannya.

Karena saya termasuk yang awam dalam masalah ini, maka sebagai orang awam yang tidak punya kapasitas untuk berijtihad, disarankan untuk mengikuti pendapat para ulama yang diyakini lebih dekat kepada kebenaran dalam ijtihadnya. Yang awam tidak akan mampu memahami hukum syar'i yang sifatnya istinbath dan ma'aniy, maslahat dan mafsadat dan tidak akan mampu menerapkan di kondisi yang berbeda dan kapan memakai kaidah: الضرر يزال

Dan kapan memakai kaidah: إذا تزاحم الضرران

Atau kapan pakai kaidah lainnya selain ini. Bagian kewajiban orang awam seperti saya adalah mengikuti pendapat diantara para ulama, baik yang membolehkan dengan syarat, ataupun yang mengharamkan, tanpa mengilzam (memaksa) orang lain agar mengikuti apa yang menjadi keyakinan kita, karena ini masuk kepada khilaf para Ulama. Yang tidak paham maqashid syari'at, ushul fiqh dan ilmu-ilmu pembantu fiqh, mustahil untuk paham masalah ini dan bisa menghukumi.

Para Ulama tersebut diantaranya Syaikh ‘Abdurrahman Al Barrok –hafizhahullah-, ulama senior di kota Riyadh Saudi Arabia. Silakan membaca penjelasan mengenai fatwanya terkait hal ini di: http://www.shawati.com/vb/archive/index.php/t-12080.html

Lalu Syaikh ‘Abdullah bin ‘Abdirrahman Al Jibrin –rahimahullah-, salah satu ulama besar di Saudi Arabia. Bisa dilihat penjelasan mengenai fatwanya disini: http://montada.echoroukonline.com/archive/index.php/t-16999.html

Begitupun dengan para Ulama yang tergabung dalam Lajnah Da’imah, dapat dilihat penjelasannya dalam Fatwa no. 14676.

Perlu diketahui. para Ulama yang membolehkan ini bukanlah yang menghalalkan demokrasi, Karena sistem demokrasi tidak lahir dari rahim Islam, dan pertentangannya dengan konsepsi Islam pun cukup banyak. Yang paling besar, jelas, karena ia memberikan kesempatan kepada manusia membuat undang-undang dan hukum yang menyelisihi hukum Al-Qur'an dan As-Sunnah. Ini perkara yang amat dahsyat, keburukan yang sangat nyata. Yang ridha dengan hal ini, telah jatuh pada kekufuran, sebagaimana dinyatakan banyak sekali ulama mengenai hukum demokrasi.

Hanya saja, hukum muslim berinteraksi dengan demokrasi ini yang perlu perincian, tidak pukul rata, kufur semuanya, atau haram semuanya. Faqih itu bukan yang paham masalah dzahir, tapi yang mampu membedakan mana yang lebih baik di antara 2 kebaikan mana yang lebih buruk di antara 2 keburukan. Masing-masing fuqaha menghukumi sesuai ilmu yang ia miliki dengan pertimbangan yang tidak sembarangan. 

Kedua calon pemimpin zhahirnya adalah sama-sama muslim, namun sama-sama tidak mengusung agenda perjuangan penerapan syariat Islam, boleh dikatakan keduanya dharar. Hanya saja dapat dikatakan salah satunya lebih ringan dengan melihat visi dan misinya yang mengarah kepada ingin menyelamatkan negeri ini dari “kekuasaan” negara lain yang efeknya sungguh tidak sepele.

Lalu ada yang berusaha menyanggah, “Saya tidak melihat ada urgensinya untuk memilih, selain keharamannya tampak nyata, dan saya lebih condong kepada pendapat yang mengharamkan ikut memilih.”

Saya sangat menghargai, dan tidak berusaha mengilzam siapapun untuk ikut pendapat Ulama yang mewajibkan ataupun yang membolehkan dengan perincian yang intinya adalah melihat dua konsekuensi:

1. Semakin banyak orang kafir atau orang orang jelek yang duduk di pemerintahan, maka akan semakin besar peluang membuat undang undang yang bersebrangan dengan hukum Allah ‘azza wa jalla.

2. Semakin sedikit orang kafir atau orang orang jelek yang duduk di pemerintahan, semakin kecil peluang membuat hukum yang berseberangan dengan hukum Allah.

Tentu dengan CATATAN, tidak menganggap haram sesuatu yang halal, dan tidak menganggap halalnya sesuatu yang haram. Dan juga tidak mengikuti perkara haram yang dilegalkan oleh Undang Undang. 

Lalu urgensi lainnya apa? Izinkan saya jelaskan alasan lainnya dengan lebih detail disini, semoga keputusan saya tidak keliru, karena sungguh ini hasil dari pemikiran panjang dan tentunya dengan memohon petunjuk kepada-Nya, bukan dengan hawa nafsu.

Sayapun diingatkan bahwa keyakinan Ahlussunnah adalah semua memang sudah ditakdirkan Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Sedangkan pembeda antara ahlussunnah dan kaum Jabariyyah adalah dimana disamping yakin akan takdir Allah Ta'ala, Ahlussunnah juga tidak meniadakan usaha. Sementara kaum Jabariyyah meniadakan usaha.

Dan jawabannya tiada lain adalah sesuatu yang lebih besar dari sekedar pemilu. Yang lebih besar dari sekedar pergantian presiden yaitu masalah kebaikan generasi ummat ini, dan juga tentang negara ini yang biiznillah akan dihuni anak dan cucu kita nantinya. 

Mungkin ada yang tidak menyadari, karena lebih memandang ini hanya masalah aspirasi politik, hanya tentang kekuasaan kelompok yang menang semata. tidak melihat urusan yang lebih besar daripada itu. Negara yang sedang tergadaikan.

Kita hidup di era global. Jangan sampai menutup mata dimana negara-negara besar “menguasai” negara-negara lain tidak melalui penjajahan langsung tapi melalui neo-kolonialisme, melalui imperialisme politik, yang gejalanya sudah sampai di Indonesia tapi masih juga sulit diyakinkan kepada sebagian masyarakatnya.

Saya kutip juga disini catatan DR. Moeflich Hasbullah, bahwa negara-negara raksasa dengan ledakan penduduknya yang sudah tidak terkendali di negerinya karena sudah “over limit”, pasti akan mencari sumber-sumber alam dan penghidupan dengan membanjiri negara-negara lain dan menganeksisasi secara ekonomi dan politik. Kolonialisme dulu karena kerakusan, sekarang kolonialisme karena mempertahankan hidup dari negara yang terlalu besar.

Penduduk Cina sekarang sudah sekitar 1,4 milyar yang sumber alamnya sudah tak bisa diandalkan. Bagaimana ia harus mempertahankan hidup? Seperti air, dengan meluber keluar, menganeksasi bangsa-bangsa lain. Dan Cina sudah membuktikan itu dengan jebakan-jebakan utang yang besar yang membuat negara lain tidak berdaya:

Tibet sudah jadi negara Cina, Malaysia sudah terlambat untuk bisa lepas dari hegemoni Cina dengan utangnya. Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Rizal Taufikurahman mengungkapkan, Zimbabwe memiliki utang sebesar 40 juta dollar AS kepada Cina dan tidak mampu membayar sehingga harus mengganti mata uangnya menjadi Yuan sebagai imbalan penghapusan utang sejak 1 Januari 2016. Nigeria yang disebabkan oleh model pembiayaan melalui utang yang disertai perjanjian merugikan dalam jangka panjang membuat Cina mensyaratkan penggunaan bahan baku dan pekerja asal Cina untuk pembangunan infrastruktur di Nigeria. Sri Lanka yang juga tidak mampu membayarkan utang luar negerinya untuk pembangunan infrastruktur dan harus melepas Pelabuhan Hambatota sebesar Rp 1,1 triliun atau sebesar 70 persen sahamnya dijual kepada Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Cina. Angola mengganti nilai mata uangnya. Zimbabwe juga.

Utang Indonesia sudah mencapai 5000-an Trilyun, yang artinya satu hari harus membayar utang sebesar 1 trilyun. Dan Indonesia akan sangat kesulitan membayarnya. Satu-satunya cara adalah intervensi Cina harus diterima menghegemoni Indonesia dengan dikte-dikte ekonomi dan politiknya yang kini semakin kuat. Dan tentu jika keduanya telah dikuasai, maka SYARIAT ISLAM akan semakin sulit tegak di negeri ini. Satu pemimpin non muslim yang pernah “berkuasa” sebagai Gubernur saja, dapat kita lihat pengaruh kebijakannya.

Melalui konglomerasi raksasa, Indonesia harus dibawah kendali mereka. Petahana adalah akses yang bisa diintervensi yang selama menambah terus utangnya hingga titik kritis. Menteri Koordinator Bidang Kemaritimannya sudah menandatangani 23 kontrak proyek dengan Cina untuk memperkuat dan semakin mengunci Indonesia dengan utang. Salah satu kubu yang peduli bangsa ini melihat bahaya jebakan utang ini.

Saya pribadi sangat khawatir negara ini nasibnya akan seperti Andalusia, Andalusia yang hancur, karena jatuh ke tangan pemimpin kafir, setelah sebelumnya dibawah kekuasaan Islam selama kurang lebih 800 tahun. Pemimpin muslim terakhir yang ada disana, Abdillah Muhammad bin Al Ahmar, keluar dari istana kerajaan dengan hina, karena tidak mampu menjaga kerajaannya dan menegakkan Islam sebagaimana seharusnya seorang Pemimpin kaum muslimin.

Umat Islam disana diberi pilihan: Ikut keyakinan yang berkuasa atau diusir, bahkan dibunuh. Penyebab jatuhnya Andalusia adalah karena para pemimpinnya yang cinta dunia, berkubang kemaksiatan, rakyatnya yang menyerahkan urusan bukan pada ahlinya, dan tidak menjalankan aturan agamanya.

Maka, belajarlah dari orang-orang terdahulu. Jangan sampai menutup mata, disamping para asatidz negeri ini yang berikhtiar dengan terus mendakwahkan tauhid kepada umat, namun tidak cukup hanya sampai disitu.. saya pribadi melihat ada amanah besar lain, yaitu berikhtiar untuk memilih pemimpin yang setidaknya diusung oleh yang ingin negara ini tidak jauh dari syariat Islam dengan berikhtiar sedikit demi sedikit mengubahnya dari dalam dan juga mencegah agar negara ini tidak “jatuh” ke “tangan” orang-orang yang ingin menguasai negeri ini melalui jerat utang. Yang berdampak kepada banyak aspek yang mungkin baru kita sadari jika telah terjadi. Wallahu a’lam.

Ini UJIAN bagi kita semua.

Bagi yang tidak sependapat dan tidak sepandangan dengan saya, tidak mengapa. Semoga Allah Azza wa Jalla memaafkan dosa saya jika apa yang saya sampaikan ini keliru.

Laa hawlaa walaa quwwata illa billah.

menyapamentari
menyapamentari

Kelak, aku ingin sekali menjagamu baik-baik sebagaimana engkau demikian menjaga juga menghargai kehadiranku dalam hidupmu. Sejak saat pertama engkau mengutarakan niat baikmu, sejak saat pertama engkau mengupayakanku setulus hatimu.

Kelak, aku ingin sekali menyembunyikan banyak kebaikanmu kepadaku dari semesta, biarlah kebaikanmu untukku saja, biarlah aku saja yang mengetahui segala kebaikanmu, dari yang paling sederhana hingga yang membuatku merasa menjadi seseorang yang paling beruntung.

Kelak, mungkin tak akan banyak caraku menunjukkanmu di hadapan semesta. Biarlah saja kita berdua yang menjalaninya, tentang manis pahitnya menjalani rumah tangga, tentang jatuh bagunnya menjadi pasangan hidup, tentang terang redupnya menjaga perasaan satu sama lain.

Tak apa bila tak banyak yang bisa kita bagikan kepada semesta. Sebab kita pun masih terus menerus belajar menjalani sebaik-baiknya peran, dan aku ingin kita sibuk menjalaninya dengan setulus hati selurus niat kita. Hingga waktu kita dalam kesibukan yang mengantarkan kita untuk sibuk mengamalkan segala sesuatu yang bermanfaat di atas jalan yang telah kita ikrarkan di hadapan-Nya.

Kelak, mungkin semua masih tetap sama. Aku akan mengajakmu merasakan bagaimana bahagianya bersembunyi. Ah ini lucu yaa. Tapi sungguh, menepi dari riuhnya semesta adalah satu bahagia yang menenangkan hati.

Tak apa bila tak banyak yang mengetahui tentangmu. Sebab cukuplah aku yang melangitkan rasa syukur atas hadirnya engkau dalam hidupku, menyempurnakan separuh agamaku, dengan seijin Allaah yang Maha Baik yang kebaikannya seringkali membuatku tertunduk haru sekaligus malu. Alhamdulillaah.

karenanya aku sungguh-sungguh ingin menjagamu baik-baik! untukmu, hati yang baik.

Satu hari dibulan Desember, Menuliskannya @menyapamentari 💙🌻

taufikaulia

Menangislah Jika Itu Menenangkan

taufikaulia

Perkara hati adalah perkara yang tak mudah diprediksi. Seorang lelaki gagah pun bisa saja tiba-tiba menangis karena kehilangan. Seorang lelaki parlente pun bisa saja berkali-kali menangis karena ditinggalkan. Rupanya hati tak pernah bergantung pada rupa, predikat, pekerjaan, kekayaan, dan kedudukan. Hati adalah alam sendiri yang bisa bahagia dan sedih semaunya.

Menangislah dan jangan berhenti jika itu menenangkanmu meski hanya untuk sesaat. Menangislah dan resapi jika itu mengurangi dukamu meski tak lama. Tangisan bukan tanda kelemahan. Menangis adalah tanda hatimu masih hidup meskipun redup, tanda masih bisa berharap dan membuat pilihan dalam hidup. Bersyukurlah karena rindu nan sendu itu berhasil membuatmu menangis, bahkan berkali-kali. Hatimu lembut. Jangan salah, yang menangis hari ini belum tentu akan terus hidup dalam sedu-sedan di masa depan.

Jika kamu adalah orang yang kehilangan, ditinggalkan, atau telah menyia-nyiakan kesempatan atas sebongkah hati manusia, sekalipun susah tapi bersyukurlah saja. Bersyukur karena kamu hanya kehilangan manusia, bukan kehilangan Allah. Bersyukur karena kamu hanya ditinggalkan manusia, bukan ditinggalkan Allah. Bersyukur karena Allah tak pernah berpaling dan selalu memberi kesempatan yang sangat luas sekalipun kamu terlalu sering menyia-nyiakan-Nya.

Jangan kamu tolak rasa sedih dan sendu itu. Kamu bisa jadikan itu energi untuk melawan balik. Bukan balas dendam, tapi untuk melanjutkan hidup dengan versi terbaik dari dirimu. Pengalaman pahitnya kehilangan adalah pengalaman yang berharga, yang mengajarkan kamu untuk menjadi pribadi lebih baik yang menghargai sesuatu dan kesempatan yang kamu punya.

Well, kehilangan memang berat. Tapi kita adalah orang-orang yang percaya. Yang percaya bahwa takdir itu ada, yang percaya bahwa jodoh itu ada. Saat kehilangan terasa begitu berat, bayangkan saja bahwa kamu akan dipertemukan dengan seseorang yang akan menyerahkan hati sepenuhnya untukmu. Jangan jadikan dia yang di masa depan itu menjadi sia-sia untuk yang kesekian kalinya, karena kamu berkewajiban memberikan hatimu padanya tanpa ada luka segores pun.

Barangkali kamu hanya butuh waktu untuk kembali pulih. Nikmati saja jika memang harus menangis. Al-Qur’an adalah obat dan penawar, cobalah sembuhkan hatimu dengan membacanya perlahan. Aku tak tahu kapan kamu akan pulih, tapi setidaknya percayalah bahwa Al-Qur’an adalah penawar hati yang luka. Tangismu itu akan lebih bernilai jika diiringi bacaan Al-Qur’an meskipun sambil terbata.

Jangan berhenti memikirkan masa depan. Masa lalu adalah bagian dari dirimu yang tak akan hilang, tapi kamu tak lagi hidup di situ. Dimensi tempatmu hidup adalah hari ini yang terus berjalan maju. Akan banyak sekali tempat yang kamu singgahi dan orang yang kamu temukan. Aku adalah orang yang sangat percaya, bahwa kelak kamu akan menemukan seseorang yang menjadi tempat pulangmu, yang akan membuatmu bersyukur memilikinya, dan yang akan menghapus penyesalanmu yang telah lalu.

Allah tak pernah meninggalkanmu, Sahabatku.

“Do not lose hope. Nor be sad.”
(Surah Ali Imran: 139)

Taufik Aulia

kurniawangunadi

RTM : Membangun “Value”

kurniawangunadi

Beberapa diksi dalam bahasa tertentu memang sulit diterjemahkan dengan baik ke bahasa lain secara utuh, pasti ada makna-makna yang terasa kurang. Termasuk diksi “value” ini karena kalau diterjemahkan menjadi “nilai”, tetap saja rasanya mengganjal. Untuk itu, izinkan saya untuk tetap menggunakan bahasa aslinya.

Semasa dulu, sering saya melihat keluarga teman-teman saya yang lain. Dari yang mulai brokenhome sampai yang keluarga superteam. Saya mempelajari apa-apa yang terjadi dalam keluarganya, bagaimana didikannya, bagaimana interaksinya, hingga semua yang terjadi dalam keluarga tersebut menjadi value yang dipegang oleh teman-teman saya. 

Dulu, saya sering membanding-bandingkan keluargaku dengan keluarga teman-temanku yang lain. Keluarga yang openminded, yang terbuka, yang hangat, segala macam hal yang begitu kuinginkan ada dalam keluargaku, ada pada mereka. 

Hari ini, setelah hampir dua tahun membangun keluarga sendiri. Saya paham, saya menjadi mengerti bahwa untuk mewujudkan semua itu, tidaklah sesederhana kelihatannya.

Ini tentang membangun value dalam keluarga. Keluarga kecil yang sedang aku mulai sekarang pun demikian, kami sedikit-demi-sedikit membangun value-value yang akan kami wujudkan dalam keluarga ini. Sesederhana, di keluarga kecil kami. Kami tidak ingin memandang uang sebagai sesuatu yang berlebihan, menjadikannya sewajarnya. Biar terasa ringan ketika mendapatkannya, terasa ringan pula ketika tidak memilikinya. Terasa ringan pula jika harus memberikannya kepada orang lain yang lebih membutuhkan. Secara tertulis, terlihat mudah. Praktiknya, kami berjibaku untuk membangun mindset itu setahap demi setahap. 

Di keluarga kecilku, kami berusaha untuk menjaga privasi seoptimal mungkin. Sesederhana, kami tidak memuat foto/video anak perempuan kami di media sosial. Itu adalah awal dari value besar yang ingin kami wujudkan dalam keluarga ini. Dan seringkali menjadi pertanyaan orang lain, “kok foto Shabira tidak pernah kelihatan”. Ya, tidak masalah. Karena ini adalah keluarga kami, dan kami sedang membangun value-value dalam keluarga ini melalui tindakan-tindakan sederhana, bertahap, dan kami ingin mengajarkan pada anak-anak kami, membangun value itu tidak semudah menulis mimpi di atas kertas. Dan ujian untuk membangunnya, pasti tidak mudah.

Keluarga kami, keluarga yang aku bangun ini adalah tanggungjawabku, sebagai kepala keluarga. Ke mana keluarga ini akan bergerak, value-value apa yang akan menjadi pegangan dalam keluarga ini, semuanya sedang dibangun pondasinya. Bertahun mendatang, semoga apa yang aku bangun saat ini mulai kelihatan bentuknya. 

Anak-anak tumbuh menjadi anak-anak yang lembut hatinya sekaligus kuat. Memiliki daya juang sekaligus keikhlasan pada hasil. Mereka bisa melihat dunia dengan lebih bijak. Mereka bisa menilai benar dan salah dengan tepat. Mereka tidak menjadikan dunia (harta, popularitas, dan lain-lain) sebagai tujuan, apalagi alasan kebahagiaan. 

Saya memahami bahwa membangun value dalam keluarga ini adalah sebuah proses panjang. Sejak awal membangun keluarga ini, saya mengerti bahwa masing-masing keluarga yang dibangun pasti punya valuenya masing-masing. Apa yang kami yakini dan kami bangun, mungkin berbeda dengan apa yang sedang dibangun oleh teman-teman kami yang lain. Untuk itu pula, saya tidak akan sibuk bertanya kepada mereka mengapa begini dan begitu, sebab saya mengerti bahwa membangun keluarga itu tidak mudah. 

Menjaga value dalam keluarga, juga tidak mudah. Apalagi jika kita menjadi generasi pertama, generasi yang akan mengganti banyak sekali value-value dalam keluarga kita sebelumnya.

Yogyakarta, 13 Mei 2018 | ©kurniawangunadi

zulvamaulida

RTM : Untuk Terus Mencintainya, Kamu Harus Berjuang.

kurniawangunadi

Catatan ini mungkin lebih khusus ke laki-laki. Sebab nanti, selepas menikah. Mungkin dalam pandangan matamu, istrimu tidak akan secantik-semanis-sebaik-dan sesempurna sewaktu kamu dulu memperjuangkannya. Saat ini, bisa jadi kamu bisa menyangkal. Tapi, nanti selepas menikah dan menjalaninya, kamu mungkin baru akan memahami maksudku ini.

Kamu harus berupaya untuk bisa terus mencintai istrimu. Perasaan itu tidak tumbuh seperti rerumputan yang terkena hujan. Perasaan itu adalah pohon besar dan kamu menanamnya sejak bibit. Kamu harus merawatnya, menyiraminya, melindunginya dari hama, menyiangi rerumputan disekitarnya, dan juga kamu harus selalu waspada agar ketika nanti ia sudah cukup besar, tidak ada orang lain yang tiba-tiba datang dan menebangnya.

Perempuan yang barangkali adalah temanmu, rekan kerjamu, atau orang yang tiba-tiba kamu temui di jalan. Mereka mungkin tidak melakukan apapun, tapi matamu tidak. Matamu bisa membuat apa yang terlihat menjadi beribu kalilipat lebih baik, lebih cantik, dan segala kelebihan lainnya yang mungkin akan menyulut perasaan lainnya. Tantangan. Seperti kala dulu kamu memperjuangkan perempuan yang menjadi istrimu saat ini.

Untuk itu, ingat-ingatlah selalu kebaikan perempuan yang sedang di rumah menunggumu pulang. Siapa orang yang paling khawatir kala kamu sakit. Siapa orang yang bisa menerimamu apa adanya saat kamu bukan siapa-siapa dan tak memiliki apa-apa selain kenekatanmu menikahinya dulu. Siapa orang yang rela bersusah payah mengurus segala keperluanmu, juga keperluan anak-anakmu nanti. Ia bersedia bersusah payah mengandung anakmu sembilan bulan dalam kepayahan yang kamu tidak bisa merasakannya. Anak yang mungkin lebih kamu cintai nantinya daripada istrimu.

Sungguh, untuk terus mencintainya, kamu harus berjuang. Bualanmu tentang cinta saat ini, juga bualanmu tentang segala janji itu bisa aku katakan adalah omong kosong. Sebab nanti, jalan yang amat panjang dan mungkin akan membosankanmu telah menanti. Biar tak bosan, kamu perlu menghidupkan setiap ingatanmu mengapa dulu kamu mau memperjuangkannya, setiap rasa syukurmu, dan iman.

Sebab menikah dengan seseorang yang kamu cintai saat ini bukanlah hadiah, melainkan sebagai ujian baru. Ujian yang hanya bisa kamu jawab ketika kamu menjalaninya, bukan dengan lisan, melainkan perbuatan.

©kurniawangunadi | 10 September 2017

edgarhamas
edgarhamas

Ketika Al Quran Menyentuh Hatimu

@edgarhamas

(disampaikan dalam Kajian Online One Day One Lembar -ODOL- yang dirintis oleh Alumni Alfa Centauri, Sabtu 17 Februari 2018)

Mendiskusikan tentang Al Quran itu, mudah. Namun mengubah sudut pandang kita lebih jernih terhadap Al Quran, itu adalah sebuah pekerjaan yang besar. Sama-sama Al Quran, namun cara pandang pembacanya lah yang menentukan apakah ia dihargai, atau dijadikan properti penghias rumah saja.

Itulah yang saya katakan kepada Mas Farras ketika diminta mengisi Kajian Online ini. Jujur, saya bukan orang yang bisa menjelaskan keutamaan-keutamaan para pembaca Al Quran dengan sederet dalil naqli dan hadits shahih. Sebab sudah banyak buku yang membahasnya.

Saya ingin menjernikan sudut pandang kita, melemaskan sedikit sendi-sendi cara berpikir kita untuk melihat lebih nyata; Al Quran itu bukan sekadar bait-bait tulisan arab yang diterjemahkan. Ia, ada semesta di dalamnya. Ada peradaban di dalamnya. Ada manusia, bumi, dan waktu di dalamnya.

image

Kota Pertama; Ternyata Inilah Resep Rahasia Kita

Setiap orang, negeri, dan peradaban yang besar, selalu punya resep rahasia yang membuatnya agung. Bukan sekedar keberuntungan semata, bukan juga karena mereka tertakdirkan sejak awal untuk menjadi besar. Semua kehebatan mereka, selalu ada resep khususnya.

Peradaban Barat, baru terbit sekitar 500-an tahun yang lalu. Belum lama. Mereka menjadi semaju yang kita lihat karena etos kerja mereka dan kreativitas yang tinggi. Banyak penemuan-penemuan dihasilkan, karena mereka punya semangat ingin lahir kembali sebagai peradaban unggul sebagaimana nenek moyangnya, Romawi berkiprah dalam sejarah manusia. Itulah resep rahasia mereka.

Jepang, umur kejayaannya tidak jauh berbeda dari Barat, 500-an tahun, dengan resep rahasia berupa kedisiplinan tingkat tinggi dan kecepatan mereka, selalu membuat orang-orang terpana. Ketika tahun 1900-an, Amerika membuat kapal selam dalam waktu 24 bulan, Jepang bisa membuat yang lebih bagus dalam waktu 8 bulan. Hingga kini bahkan, isunya, Jepang sudah membuat teknologi yang siap diluncurkan tahun 2025. Cepat dan cekatan.

Dan pada mereka semua, kita silau terpana. Seakan-akan merekalah peradaban termaju sepanjang sejarah. Efeknya kemudian; kita menirunya mati-matian, mengagungkannya bahkan kadang dengan berlebihan.

Padahal, mereka ini iri dengan kita, mereka juga mengambil dari kita. kejayaan mereka hari ini, mereka mengambilnya dari resep rahasia kita, tak semuanya, namun tiba-tiba, mereka tampil jadi raja.

Resep Rahasia itu adalah Al Quran,

yang sejak dulu Allah sudah mewanti-wanti kita untuk waspada, “Dan orang-orang yang kafir berkata: “Janganlah kamu mendengar dengan sungguh-sungguh akan Al Qur'an ini dan buatlah hiruk-pikuk terhadapnya, supaya kamu dapat mengalahkan (mereka).” (QS Fushhilat 26)

Nyata. Mereka ingin kita tak memahami resep rahasia kita sendiri. Kenapa? Mereka ingin kita tetap tunduk malu, padahal kita umat agung. Mereka ingin kita terbaring lemas, padahal kita adalah kesatria.

Dan karena merea trauma; ketika resep rahasia ini kita pahami, kita memimpin dunia 1200 tahun lamanya, menguasai 2/3 dunia dengan keadilan, memimpin bangsa-bangsa di seluruh dunia. MasyaAllah

Adakah kau lupa

Kita pernah berjaya

Adakah kau lupa

Kita pernah berkuasa

Memayungi dua pertiga dunia

Merentas benua melayar samudera

Keimanan juga ketaqwaan

Rahasia mereka capai kejayaan

Kota Kedua; Selama Ini Kita Salah Menakar Kehebatannya

Ada 3 hal yang membuat kita membeningkan sudut pandang kita terhadap Al Quran.

Pertama, jika alam semesta ini adalah stage pertunjukan, tentu ia membutuhkan naskah skenario terbaik bagi siapapun yang ingin jadi pemeran utama. Kebanyakan pemeran tidak menemukan skenario itu, akhirnya mereka mencoba membuat sendiri, dan hasilnya; gagal. Ternyata, naskah pemeran utama itu ada di tanganmu. You know what? Al Quran. (Lihat As Syuraa’ ayat 52)

Kedua, kok Amerika Serikat keren banget ya? Jangan salah, mereka habiskan 300 tahun supaya bisa sehebat itu. Kok Eropa bisa semegah itu ya? Wajar, mereka habiskan 500 tahun sampai menjadi negeri penguasa.

Tetapi… Ada, dalam sejarah manusia, peradaban yang muncul tiba-tiba, dan 30 tahun saja bisa langsung menjadi penguasa 1/3 dunia. You know who? Ya. Peradaban Islam.

Kamu tahu rahasianya apa? Al Quran.

“Sesungguhnya Allah mengagungkan sebuah kaum dengan Al Qur’an, dan menghinakan sebagian kaum karena Al Qur’an”, sabda Rasulullah sebagaimana diriwayatkan Imam Muslim. Maksudnya, siapapun bangsa berpegang pada Al Quran, pasti berjaya. Dan siapa yang meninggalkan Al Quran, pasti terhina.

Ketiga, izinkan saya bertanya, apakah kamu paham tulisan orang Indonesia 200 tahun sebelum 2018? Tentu susah, sebab banyak sekali perubahan yang terjadi. Kemarin saya tanya orang Rusia, apakah ada tulisan orang Rusia 100 tahun lalu yang ia pahami? Dia menjawab, “tidak, selalu ada perkembangan kosakata dan perubahan berkali-kali.” Lalu, bagaimana kamu bisa tidak takjub dengan Al Quran, bertahan dengan keasliannya selama 1439 tahun lamanya! Ini sangat menunjukkan ada “invisible hand” kekuatan Mahadahsyat yang menjamin keaslian Al Quran sampai kelak mentari terbit dari barat.

Dan ternyata, ketiika kamu memahami kehebatannya, kamu akan benar-benar bangga bisa memiliki dan memeluknya erat. Ya, kamu dapat kesempatan emas untuk menjadi sesuatu yang spesial, dan istimewa.

***

Sama-sama membaca Al Quran, namun tentu akan berbeda antara kita yang masih awam, dan mereka yang telah memahami makna dan tafsirnya.

Mereka yang memahami Al Quran, memaknainya sebagai hadiah terindah dari Dzat yang Mahapenyayang, bukan sekadar lembar tebal yang bertulis aksara arab.

Apa yang membedakan kita dan mereka? Cara pandang. Bagaimana membeningkan cara pandang kita dalam memaknai itu semua? Jawabnya; ilmu pengetahuan dan perenungan.

***

Kota Ketiga; 5 Model Manusia Muslim Membersamai Al Quran

“Ada 5 tingkatan seseorang ketika ia berinteraksi dengan Al-Qur'an”, nasihat seorang Guru.

Pertama, Talaffudz, sekadar membaca tanpa mesti mengetahui arti ayat. Ini dia yang menjadikan Al-Quran istimewa. Ia, dibaca dengan lisan mendatangkan pahala, paham atau tak paham. Suatu zaman Imam Ahmad bermimpi bertemu Allah kemudian menanyakan, “Apa amalan terbaik yang bisa mendekatkan hamba pada-Mu?” “Membaca Al-Qur'an, faham ataupun tidak”, itu jawab-Nya. Terukir indah di buku Siyar A'lam An-Nubala’.

image

Kedua, Tafahum, ketika kita memahami apa yang diutarakan mutiara keajaiban Al-Quran. Memahaminya butuh perangkat, mulai dari mengilmui bahasa Arab, Ilmu Tafsirnya, Nasikh Mansukh, hingga ke akarnya.

Ketiga, Tadabbur, ketika apa yang kita baca begitu meresap dalam jiwa. Dibaca ayat surga begitu rindu menujunya, dibaca ayat siksa begitu gemetar memaknainya. Bila sampai pada tingkat ini, jiwa benar-benar mendapat gizinya, mata air segar di tengah badai pasir kehidupan.

Keempat, Tafakkur, inilah ketika kita sahabati Al-Quran, kemudian melahirkan ilmu-ilmu megah nan menginspirasi. Al-Quran ini menjadi mata air ide dan ilham. Bagi para Ekonom ia dapatkan kaidah sistem ekonomi madani. Bagi Saintis akan menemukan kaidah permulaan semesta. Tafakkur inilah yang kini memudar dari jatidiri ummat kita.

Kelima, Tanfidz. Melaksanakan. Apapun yang ada dalam Al-Quran, akan menjadi gempita indah jika tangan dan kaki kita melakukan apa yang Quran bimbingkan. Itulah tingkat para Sahabat Rasul, memastikan setiap ayat yang turun mesti mereka laksanakan tanpa basa-basi.

Dan lihat, para penghuni gurun itu akhirnya menjadi penguasa Persia dan Romawi. Memimpin dunia dengan keadilan madani, abadi sebagai kebenaran sejati.

Kota Keempat; Dan Bagaimana Ia Menyentuh Hatimu?

Pertama, Al Qira’ah Li Ajlil Ma’na, Membaca untuk mencari makna.

Ketika kamu mau membaca Al Quran, datangkan juga satu keinginan untuk memahaminya. Itulah mengapa Al Quran terjemahan sangat penting bagi kita yang belum mengerti Bahasa Arab. Memang benar, membacanya tanpa tahu maknanya tetap saja berpahala. Namun, bukankah Al Quran dihadiahkan kepadamu untuk kamu pahami maknanya? Maka, sediakan alat tulis; notebook dan pena, untuk mencatat inspirasi yang kamu dapatkan setelah membaca Al Quran. Dijamin pasti menyenangkan.

Unik memang, kamu membaca satu ayat yang sama, namun inspirasinya bisa berkembang dan terus ada, tak pernah habis. Ayatnya ya tidak berubah, dari dulu sampai sekarang tetap sama, namun ide-ide yang muncul darinya tidak pernah surut. Selalu saja segar.

Padahal ia sudah dikaji miliaran manusia sejak 1400 tahun lalu.

Kedua, An taj’al a’dzam waqtak lil Quran. Berikan waktumu yang terbaik untuk Al Quran, Jangan berikan padanya waktu ecek-ecekmu. Al Quran hanya akan memberikan rahasianya pada mereka yang mengagungkannya.

"Bagaimana mungkin kamu memberi waktu sisa pada Al Quran, padahal Allah bilang tentang Al Quran; Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik yaitu Al Qur'an yang serupa -mutu ayat-ayatnya- lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya”, nasihat Syaikh Ahmad Al Mashry.

Ketiga, At Ta’addub bil Qur’an. Menjaga Adab pada Al Quran. Ini akan sangat nyambung dengan hatimu. Ketika kamu mencintai seseorang, kamu pasti akan menyayanginya dengan tulus. Ketika seseorang suatu hari menyelamatkan nyawa kamu dalam suatu kecelakaan, kamu pasti akan sangat menaruh hormat padanya.

Tentu akan lebih agung caramu mencintai Al Quran, ketika kamu tahu, dia akan datang sebagai sahabatmu di kala mentari sedekat hasta, tak ada pelindung, hanya ada padang luas berisi manusia-manusia yang setiapnya berpikir tentang dirinya sendiri. Ya, mahsyar manusia.

Maka, jagalah adabmu pada ‘penyelamat’ mu di hari tersulit itu. Buat ia bahagia, maka ia akan membahagiakanmu di hari penghakiman kelak.

Dan Kita Sampai di Ujung Dermaga

“Kamu tahu apa yang membuat generasi sahabat Rasulullah menjadi satu-satunya generasi terunik sepanjang peradaban manusia?”, tanya seorang Guru suatu hari.

“Yang saya tahu”, selidik salah satu kawan, “mereka langsung melaksanakan apa kata Al Quran tanpa banyak basa-basi”.

“Baik, itu salah satu jawabannya. Sekarang, apakah kau yakin generasi seperti itu akan terulang di masa depan?”, tanya beliau.

“Saya… saya, ah, nampaknya tidak yakin”, jawabku sembari bingung sendiri.

“Jawaban itu pesimis. Al Quran itu datang dan dicipta untuk umat manusia, dari zaman dulu hingga masa depan tanpa terkecuali. Jika kamu tidak yakin generasi semodel sahabat tidak akan terulang, berarti kamu nampak ragu pada keagungan Al Quran.”

Kami diam, termenung. Lalu tersadar; kami punya kesempatan untuk jadi generasi terbaik. Kami punya.

Wallahu alam.